Saturday, February 28, 2026

Umbrella


Sebagai pria yang telah menginjak usia pertengahan empat puluh, hidupku terasa sangat monoton. Hari-hariku diisi dengan menulis - karena memang itulah pekerjaanku - makan agar memiliki tenaga untuk menulis, lalu tidur supaya tidak kehabisan inspirasi untuk menulis lagi. Jam kerjaku tidak pernah menentu. Tidur bagiku sudah seperti oase yang bisa kuraih dengan mudah kapan pun kubutuhkan. Justru saat tidur itulah biasanya aku mendapat inspirasi, baik untuk melanjutkan tulisanku maupun untuk sekadar melanjutkan hidup.

Metode tidurku pun bermacam-macam. Tolong dimaklumi, aku belum menikah, dan partner tidurku selalu berganti. Tak ada yang permanen atau bertahan dalam jangka panjang. Aku tidur bersama seseorang maksimal hanya 3 kali. Setelah 3  kali, aku tak akan pernah menemui mereka lagi., entah itu wanita, pria, muda, atau lansia. Aku tidak begitu peduli. Jika sudah 3 kali, aku pasti memutuskan kontak dengan mereka.

Kalau ditanya alasannya, tentu karena aku masih mencari bahan inspirasi. Manusia adalah sumber daya inspirasi yang tak terbatas. Aku menghargai mereka sebagai sumber inspirasiku. Tapi jika ditanya apakah aku akan terus hidup seperti ini, tanpa komitmen sama sekali, jawabannya iya. Karena itu banyak dari mereka yang menyangka aku tidak menghargai manusia. Aku tak begitu ambil pusing dengan pendapat mereka. Memang terlihat seperti itu, meski nyatanya tidak sepenuhnya demikian. Jadi jika mereka pergi dengan salah paham, itu justru lebih baik bagiku. Tenagaku tak perlu terbuang untuk menjelaskan sesuatu yang pada akhirnya hanya aku sendiri yang benar-benar mengerti.

Kebanyakan teman tidurku adalah para “penggemar”-ku. Aku seorang penulis yang bisa dibilang cukup dikenal. Enam novel kriminal yang kutulis diterbitkan dalam rentang waktu 10 tahun. Dua di antaranya telah diadaptasi menjadi drama TV dengan pemain aktor dan aktris yang sedang naik daun. Mereka mendapat banyak pujian karena berhasil memerankan karakter-karakter ciptaanku. Sedikit banyak aku merasa bahagia. Berkat kesuksesan drama itu, penjualan novel-novelku yang lain juga meningkat pesat. Dulu buku-buku lamaku hanya diletakkan di rak paling bawah toko buku. Kini karya-karyaku dipajang di bagian best seller, bersanding dengan karya penulis ternama yang lebih senior. Kadang bahkan berdampingan dengan novel remaja yang sedang populer.

Sudah 2 tahun belakangan ini aku tak perlu mengkhawatirkan masalah uang. Bahkan jika aku tidak menerbitkan novel lagi, aku masih bisa hidup hingga 30 tahun ke depan tanpa bekerja. Dengan catatan, tentu saja, selama aku tidak berjudi dan hanya menggunakan tabungan itu untuk kebutuhan sehari-hari. Namun nyatanya aku tak bisa hidup tanpa menulis.

Tepat seminggu yang lalu aku menyelesaikan novel terbaruku setelah 2 tahun bergelut di dalam ceritanya. Aku cukup puas, meski masih ada sesuatu yang mengganjal. Sampai saat ini aku belum menemukan cerita sejenis di luar sana, dan aku khawatir bagaimana reaksi orang lain ketika membacanya nanti. Sejujurnya, novel itu ditulis lebih karena hasrat untuk memuaskan dahagaku sendiri. Untungnya editorku menyukainya. Padahal kalau tidak pun tak masalah. Aku siap menyimpannya untuk diriku sendiri, diarsipkan, atau mungkin dicetak 3 kopi saja. Satu kuberikan pada ibuku, 1 pada asisten rumah tanggaku, dan 1 lagi kusimpan baik-baik. Tidak menghasilkan uang pun tak apa.

Namun bagi editorku, situasinya berbeda. Penerbit tidak mungkin melewatkan “bibit uang” ini. Meski dia terlihat tidak begitu mengerti isi cerita di dalamnya, katanya selama namaku terpampang di sampul depan, itu sudah cukup menguntungkan. Aku tidak menolak. Aku harus menjaga hubungan baik dengan penerbit bukuku. Mereka orang-orang baik dan memperlakukanku dengan santun layaknya penulis senior. Mungkin karena aku adalah aset mereka. Namun kuakui, mereka juga sumber penghasilanku. Aku ingin simbiosis mutualisme ini terus berlanjut. Dulu, saat aku terpuruk dalam gemerlap dunia literatur, merekalah yang mau menerima karyaku yang masih seperti pahatan batu kasar.

Sore ini aku punya janji bertemu seseorang di restoran Italia yang terletak dekat kantor penerbit. Sudah lebih dari setahun aku tidak bertemu dengannya. Tidak ada hubungan spesial di antara kami, murni profesional. Aku tak pernah tidur dengannya atau mencoba mendekatinya dengan godaan seksual. Mungkin justru karena itu pula aku tak punya alasan untuk memutus hubungan dan menghilang darinya.

Aku mengenal Gotou Hisashi 7 tahun lalu, saat menerbitkan novel keduaku. Waktu itu dia masih ilustrator freelance untuk penerbit. Karena aku penulis kelas bawah, bahkan urusan sampul novelku pun diserahkan pada orang yang menurutku saat itu tidak berpengalaman. Begitu pikirku dulu. Namun ternyata pria yang selalu berjalan dengan sebelah kaki terseret ini adalah sosok yang cemerlang. Ilustrasinya seolah mewakili perasaanku saat menulis. Setelah mengenalnya lebih jauh, aku baru tahu bahwa sebelum mendesain sampul, dia selalu membaca seluruh isi buku sampai habis. Pantas saja dia mampu menginterpretasikan karyaku dengan begitu tepat. Tidak seperti ilustrator lain yang biasanya hanya membaca sinopsis.

Sejak saat itu, kadang kami bertemu untuk mengobrol tentang karya masing-masing. Dia pembaca yang baik, mampu menangkap makna tersirat. Aku cukup nyaman berbicara dengannya. Meski sampai sekarang aku tetap tidak tahu apa pun tentang kehidupan pribadinya. Dia tak pernah membicarakan hal selain karyaku dan karyanya. Hubungan kami benar-benar sebatas pekerjaan.

Hari itu dia datang 5 menit lebih cepat dari waktu janji. Meski begitu, karena merasa terlambat, dia menunjukkan tanda-tanda kecemasannya yang kambuh. Aku meyakinkannya bahwa dia justru datang lebih awal, jadi tak perlu sungkan. Kaki kiri Gotou tidak berfungsi dengan baik; dia berjalan pincang. Siapa pun pasti memaklumi jika dia terlambat. Meski tidak sampai menggunakan kursi roda, jelas terlihat bahwa dia memiliki masalah serius pada kaki kirinya. Saat berjalan, dia harus menyeretnya perlahan. Pemandangan itu membuat siapa pun merasa iba.

Gotou pria yang rapi. Dia selalu mengenakan pakaian formal saat bertemu denganku. Seperti hari itu: setelan jas abu-abu, dasi biru tua, dan tas map berisi contoh desain sampul yang telah dia buat. Rambutnya dibelah ke samping kanan dan ditata dengan sesuatu - minyak rambut atau gel mungkin - agar tidak jatuh menutupi dahi. Dia juga selalu membawa payung lipat berwarna hitam. Tingginya sekitar 177 cm, sekitar sepuluh sentimeter lebih tinggi dariku. Sangat mencolok. Rata-rata tinggi pria Jepang sekitar 165 cm, aku sendiri sudah lebih 2 sentimeter dari rata-rata, dan dia lebih tinggi lagi. Sebagai pria di awal usia tiga puluhan, Gotou bisa dibilang cukup tampan dan low profile. Dia tidak pernah berbicara dengan nada lantang. Nada bicaranya selalu teratur, bahkan tawanya pun tak pernah terbahak-bahak. Tipikal gentleman modern. Mungkin aku agak bias karena mengagumi karyanya juga, bukan hanya penampilan luarnya.

"Lama tak jumpa, Iijima-san. Apa kabar?" ujarnya pelan sambil meletakkan tas mapnya dan mengeluarkan isinya.

"Begini-begini saja, tak ada yang spesial. Setiap hari kudedikasikan hanya untuk menyelesaikan ‘Outer God’ di rumah." Ya, novel terbaruku berjudul ‘Outer God’, bergenre sci-fi, distopia, dan horor.

"Tapi nyatanya Anda menghasilkan sesuatu yang spesial. Menurutku, ‘Outer God’ ini adalah novel Anda yang paling mampu membuat pembaca larut ke dalamnya. Aku benar-benar merasakan ketakutan yang dialami sang tokoh utama."

"Terima kasih. Kalau boleh jujur, itu sebetulnya novel yang sangat personal. Hahaha."

"Kurasa terlalu sayang juga jika tidak dibagikan?"

"Ya, benar."

Aku setuju dengan pendapatnya, meski sebetulnya bukan semata karena sayang. Lebih karena aku takut melupakan proses berharga yang terjadi saat menulisnya. Tanganku masih sibuk memilih desain mana yang akan dijadikan sampul ‘Outer God’ ini. Yang paling menarik perhatianku adalah gambar dengan bulan dan sungai merah. Dari raut wajah Gotou, sepertinya dia sudah menduga aku akan memilih yang ini.

Seorang pelayan datang menghampiri. Gotou memesan teh Earl Grey, dan aku memesan segelas americano untuk kedua kalinya. Aku telah tiba di tempat ini 30 menit lebih awal.

"Aku mendengar katanya Gotou-san akan menikah? Benar?" tanyaku sekadar basa-basi.

"Sudah tahu ya? Iya, aku akan menikah bulan depan."

"Oh, benar toh. Kamu seperti tidak mengenal editorku saja. Dia memang sangat trivial. Pengetahuannya luas sekali dan aneh-aneh. Sampai-sampai ukuran pakaianmu pun dia tahu."

"Ah, pasti karena dia pernah memberikanku jas untuk acara di Hakone bulan April lalu."

"Ya, sepertinya begitu."

Karena kami duduk di pinggir jendela, aku bisa melihat langit di luar yang mulai gelap.

"Kamu membawa payung karena tahu akan hujan?" tanyaku penasaran.

"Tidak. Aku memang selalu membawa payung ini."

"Meski hari panas?"

"Iya. Sebetulnya aku berharap bisa mengembalikan ini kepada pemiliknya. Meski aku tak tahu di mana pemiliknya berada sekarang."

"Itu terdengar sangat romantis."

"Tidak, tidak seperti itu. Kenapa aku masih berharap bisa mengembalikan payung ini pun aku tidak mengerti."

"Sudah jelas, kan? Itu karena kamu ingin bertemu dengannya lagi," ujarku sembari mengambil americano dari baki pelayan yang tampak agak ceroboh itu. Lalu dia dengan hati-hati meletakkan teh milik Gotou.

"Jika tidak keberatan, apakah Anda bersedia mendengar ceritaku? Hitung-hitung sembari menunggu hujan reda?" tanya Gotou tiba-tiba.

Kali ini raut wajahnya menampakkan kebingungan. Mungkin karena aku menyinggung soal payung itu? Atau si pemilik payung? Aku berkata akan dengan senang hati mendengarkan. Setelah menyelesaikan 1 novel, aku punya banyak waktu luang - sampai-sampai bingung ingin menghabiskannya dengan apa. Semakin panjang ceritanya semakin baik, asal dia tidak meminta saran atau nasihat dariku. Aku bukan tipe orang yang pandai menasihati agar orang lain merasa lebih baik. Kalau membuat lebih depresi, mungkin iya.

"Apa Iijima-san percaya bahwa ada orang yang tiba-tiba menjadi tuna aksara saat dewasa? Meski awalnya bisa membaca dengan normal, namun karena suatu hal orang itu kehilangan kemampuannya. Bagai terkena kutukan."

Pembukaan obrolan panjang kami dimulai dari pertanyaan aneh itu. Aku tidak begitu paham situasinya. Pertanyaan itu terdengar tak nyata, seperti sesuatu yang mustahil terjadi di zaman ini. Aku orang yang percaya bahwa apa pun bisa dipelajari. Belajar membaca bukanlah hal yang sulit, begitu pikirku. Karena itu aku menganggap pertanyaannya tidak realistis. Namun nyatanya, hal itulah yang mengganggu Gotou Hisashi.

"Kalau lansia, mungkin saja," ujarku sembari memperhatikan gelagatnya yang berbeda dari biasanya.

"Tidak, dia bukan lansia. Usia kami bisa dibilang sepantaran. Saat SMA kami 1 sekolah, dan selama 3 tahun berada di kelas yang sama. Klub kami juga sama, klub drama. Jadi bayangkan saja, selama 3 tahun aku hampir setiap hari bersamanya. Belajar, bermain, berjalan-jalan. Meski begitu, kami tidak sering mengobrol berdua. Seolah ada jarak dan tembok tinggi di antara kami.

Dulu dia gadis yang sangat cantik. Idola sekolah dan bintang klub drama kami. Pintar dan sangat ramah. Banyak orang mengira dia akan menjadi aktris besar saat dewasa. Kekasihnya adalah sahabat karibku sejak kecil, pria yang tak kalah cemerlang. Tampan, atletis, pembicara yang baik, dan sangat pintar. Wanita itu tergila-gila padanya. Aku bisa melihatnya dari caranya menatap sahabatku setiap hari. Mereka berdua tampak seperti pasangan sempurna.

Sedangkan aku? Saat itu aku lebih seperti obat nyamuk bagi mereka, selalu mengekor ke mana pun mereka pergi. Di klub, aku bekerja di balik layar mendesain panggung drama yang akan dipentaskan. Aku sudah suka menggambar sejak SD, mungkin karena itu sahabatku mempercayakan panggungnya kepadaku. Dia penulis cerita dan naskah yang cukup andal untuk seusianya. Karyanya selalu nyeleneh dan menghibur. Dia mampu menarik perhatian banyak orang. Hidupnya saat itu sangat berwarna. Sampai titik akhir pun masih sangat berwarna.

Berbeda dengan wanita itu. Meski kuakui dia masih cantik sekarang, kondisinya bertolak belakang dari harapan."

"Kamu bertemu dengan teman sekolahmu itu?" tanyaku.

"Ya. Sekitar 1 tahun lalu. Saat pergi dengan tim penerbit ke sebuah bar di Ginza, aku bertemu dengannya lagi setelah 11 tahun. Dia bekerja sebagai hostess di bar itu. Aku cukup kaget menemukannya di tempat sekecil itu, tapi aku tak ragu sedikit pun mengenalinya. Wanita itu pasti dia.

Dulu dia selalu tampak bersih dan mengenakan pakaian bagus. Tidak kekurangan apa pun. Namun yang ada di hadapanku saat itu adalah wanita dengan parfum menyengat, mengenakan gaun mini ketat yang menampakkan belahan dada, bahkan sedikit celana dalamnya saat duduk. Rambut ikalnya diberi hairspray agar tetap menggelung di depan dada. Bulu mata palsunya tampak tak merekat sempurna. Riasannya pun seperti tak menyatu dengan kulitnya. Dia terlihat seperti hostess yang gagal.

Malam itu aku memilihnya sebagai partner minumku. Dia heran kenapa aku memilihnya - biasanya pria akan memilih gadis yang lebih muda dan bersemangat. Aku menangkap nada inferior dalam ucapannya. Namun hari itu aku tetap memilihnya.

Dia tak ingat padaku. Aku memberinya kartu nama, namun dia hanya memandanginya dengan bingung. Saat itu aku belum tahu bahwa dia tak bisa membaca. Maka aku memperkenalkan diri lagi sebagai Gotou Hisashi, sahabat kekasihnya semasa SMA. Dia tampak terharu dan kaget hingga meneteskan air mata."

Gotou jarang membicarakan seseorang. Namun dari nada bicaranya, aku tahu kisah ini bukan sesuatu yang biasa ia bagi. Dia berbicara terburu-buru, dan di setiap helaan napasnya tampak gugup. Hujan di luar seolah menjadi pertanda isi hatinya. Mendung gelap itu mewakilinya. Aku mempersilahkannya melanjutkan.

"Meski hostess, dia bukan pelacur. Aku lupa bagaimana awalnya, tapi malam itu aku tidur dengannya. Dia terus memanggil nama sahabatku saat bercinta… Kazuya. Hashimoto Kazuya. Sedangkan aku, dengan bodohnya, mengerang sambil memanggil namanya. Misa.

Aku jarang bercinta. Seperti yang Anda lihat… aku pincang. Aku jarang punya kekasih, jadi jarang pula bercinta. Namun malam itu dia tampak sangat menginginkanku. Kami melakukannya sampai 3 kali dengan posisi yang sama, lalu tertidur berpelukan hingga pagi.

Ah… maaf, aku tidak bermaksud menceritakan hal yang vulgar atau bercerita tentang hubungan seksku. Aku yakin Anda lebih berpengalaman. Tapi inilah pangkal dari rasa sakitku."

“Tidak masalah. Menurutku lebih baik diutarakan saja daripada terus mengganjal. Ini tentang wanita itu?”

“Ya, ini tentang dia… Sawada Misa.”

“Lanjutkan, aku ingin mendengar lebih banyak.”

“Ah ya, maaf. Pagi itu saat bangun, dia langsung menangis dalam pelukanku. Dia meminta maaf karena telah menganggapku sebagai Kazuya ketika kami bercinta tadi malam. Jujur saja, aku merasa itu bukan masalah, karena aku pun menikmatinya. Setelah itu, dia mengakui bahwa dirinya menjadi buta aksara; dia tak lagi bisa membaca huruf apa pun. Sejak kecelakaan motor yang merenggut nyawa Kazuya dan juga sebelah kakiku, kemampuan Sawada untuk membaca ikut hilang. Naskah serta buku-buku drama yang ditinggalkan Kazuya tak lagi memiliki arti baginya. Wanita itu didiagnosis mengalami trauma syok yang sangat berat hingga membuatnya menutup diri dari kemampuan membaca dan memaknai huruf. Ya, kecelakaan itu membuat kami cacat—fisik dan mental. Sawada pasti terlalu mencintainya. Dia tak bisa hidup tanpa pria itu. Bagai sebuah buku yang kehilangan seluruh tulisannya, itulah Sawada sekarang. Seonggok lembaran kertas putih.”

“Tapi itu sudah 11 tahun. Dia tak kunjung sembuh?” tanyaku.

“Ya. Huruf-huruf itu masih terlihat seperti gambar baginya. Sekadar simbol, tanpa makna,” ujar Gotou sembari menyisipkan sendok kecil ke dalam gelas tehnya.

“Ngomong-ngomong, aku baru tahu kalau itu karena kecelakaan,” ujarku sambil melirik kaki kiri Gotou.

“Saat kelas 3 SMU, aku mengalami kecelakaan motor bersama Kazuya. Malam itu kami pergi untuk menemui Sawada. Namun naas, ada truk dengan pengemudi mabuk yang melaju kencang dan menerobos lampu merah. Kami dihantam dengan keras. Aku terpental ke trotoar, sedangkan Kazuya meninggal di tempat.”

“Aku turut berduka. Maaf sebelumnya, aku jadi membuatmu mengingat hal yang tidak menyenangkan.”

“Tak apa. Aku sudah lama tenggelam dalam kesedihan karena kematian Kazuya. Aku memutuskan untuk tetap hidup dengan memikul semangat dan harapannya juga. Bagaimanapun, dia pria paling cemerlang yang pernah kukenal. Anda nomor 2 setelahnya. Hahaha.”

“Ah, nomor 2? Hm, kalau dia masih hidup, mungkin dia bisa menjadi sutradara teater, dorama, atau film.”

“Mungkin… dia akan menyutradarai adaptasi cerita milik Anda,” ujarnya berandai-andai.

Gotou yang kulihat hari itu adalah pria galau yang melankolis.

“Kalau begitu, dia pasti hebat,” ujarku sembari tersenyum lebar.

“Sayangnya itu tak mungkin terjadi. Karena yang tersisa di dunia ini hanya aku yang cacat fisik dan kekasihnya yang buta aksara. Aku benar-benar tak bisa membayangkan hidup sendiri di Tokyo tanpa bisa membaca. Saat itu, atas dasar yang bahkan tak kupahami, aku mengajaknya untuk tinggal bersama. Aku memutuskan akan menetap di Tokyo jika dia mau tinggal bersamaku. Waktu itu aku masih bolak-balik Nagoya-Tokyo untuk urusan pekerjaan. Namun dia tampak bingung, tak mampu memberi jawaban apa-apa. Aku mengatakan padanya agar tidak terburu-buru mengambil keputusan. Aku akan menunggu beberapa hari. Saat itu aku sudah mengajarinya menggunakan asisten telepon seperti SIRI dan juga fitur voice chat. Jika dia ingin tinggal bersamaku, cukup hubungi aku dengan menekan satu tombol panggilan. Namun nyatanya, dia tak pernah menghubungiku lagi selama 6 bulan. Kadang aku ingin mengunjunginya ke bar, tetapi aku sangat sibuk, dan kenyataan bahwa dia tidak menghubungiku lagi membuatku takut kalau kehadiranku justru akan mengganggunya.”

“Kenapa ingin tinggal bersama? Karena seks yang sangat berkesan malam itu?”

“Tidak. Bukan karena itu. Bahkan bisa dibilang aku tidak percaya diri karena keterbatasan fisikku. Kami juga 2 individu yang sangat berbeda. Tanpa Kazuya, kami tak pernah bisa mengobrol banyak. Jika bersama, kami lebih sering diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Seks itu pun bukan sesuatu yang kuinginkan lagi darinya. Aku mengajaknya tinggal bersama lebih karena ingin menjaganya. Tak terbayang jika dia yang tak bisa membaca itu hidup sendirian. Bisa saja dia ditipu orang-orang di sekitarnya atau didekati mereka yang ingin merampas uang hasil kerja kerasnya. Tak punya tempat bernaung lalu mati di jalan.”

“Jadi murni karena kasihan?”

“Mungkin. Aku tak bisa bersama seseorang yang tidak cocok denganku. Tidak ada daya tarik apa pun yang kurasa dari dirinya. Namun, jika bisa menjaganya, itu akan lebih baik - demi Kazuya juga.”

“Sayangnya dia tak menghubungimu selama 6 bulan? Berarti dia menghubungimu lagi setelah itu?”

“Ya, dia menghubungiku lagi. Tapi saat itu aku sudah menjalin hubungan dengan kekasihku yang sekarang. Kami menetap di Tokyo dan tinggal di apartemen yang sama. Sawada mengajakku bertemu. Kekasihku yang mengetahui hal itu menjadi sangat cemburu. Alasannya terdengar konyol - dia cemburu karena sama sekali tak mengenal wanita itu. Selama ini dia selalu mengenal orang-orang dalam lingkaran pergaulan dan kerabatku, tetapi aku tak pernah menceritakan apa pun tentang Sawada. Kami sempat bertengkar besar karenanya. Namun karena aku sangat ingin tahu kondisi Sawada, aku memutuskan tetap menemuinya. Aku dimaki dan didamprat habis-habisan oleh kekasihku. Aku menjelaskan panjang lebar bahwa Sawada hanyalah teman lama dengan kondisi memprihatinkan. Akhirnya dia mau mengerti dan membiarkanku pergi.

Siang itu Sawada memintaku menjemputnya di depan bar tempatnya bekerja, di Ginza. Karena cukup jauh, aku sempat mengusulkan agar kami bertemu di restoran dekat workshopku. Namun dia tak bisa membaca tanda marka jalan maupun nama restoran. Dia juga tak bisa naik kereta. Ingatannya lemah. Meski sudah kujelaskan panjang lebar arah menuju tempatku, Sawada takut tak dapat menemukannya. Akhirnya, dengan pasrah, aku berangkat menemuinya, menyeret kakiku yang ngilu sampai ke tempat itu. Dia tampak lusuh dan jauh lebih kurus dibanding pertemuan sebelumnya.”

Gotou berhenti sejenak dan mengambil bungkus rokoknya. Ia mengeluarkan sebatang rokok, tetapi teringat bahwa mereka berada di area non-smoking. Ia pun menyimpannya kembali dan melanjutkan ceritanya.

“Dengan frustrasi dan sedikit memelas, dia mengajakku ke sebuah love hotel. Dia bercerita bahwa sejak malam itu, malam ketika kami bercinta, bayangan Kazuya tak pernah hilang dari pikirannya. Dia takut jika melakukan hubungan seks dengan pria lain dan tanpa sadar memanggil nama Kazuya, pria itu akan sakit hati dan membencinya. Selama 6 bulan itu, dia tidak berkencan dengan siapa pun; dia bahkan tak bercinta dengan siapa pun. Kalau ditanya apakah aku percaya pada pengakuannya, ya, aku percaya.

Lalu akhirnya dia mengakui bahwa kali ini dia sudah tak mampu menahan hasratnya lagi. Karena itu dia menghubungiku. Dia merasa, jika melakukannya denganku, aku tak akan sakit hati meski dipanggil Kazuya saat bercinta.

Di kamar itu aku berpikir keras, memutuskan apakah akan bercinta dengannya atau tidak. Aku sadar aku sudah memiliki kekasih, wanita yang kini kucintai sepenuh hati. Seharusnya aku tak melakukan hubungan seks dengan wanita lain. Namun melihat kondisi Sawada seperti itu membuat dadaku sesak. Lalu tanpa banyak bicara, kami saling menyentuh tubuh masing-masing. Aku mencoba memahami kondisinya. Aku melihat bekas sayatan di pergelangan tangan kirinya. Kulitnya sedikit menggembung; kurasa dia pernah mencoba bunuh diri, namun gagal. Dia menyentuh bekas luka di punggungku dengan lembut. Aku terangsang. Saat itu aku kehilangan akal dan kembali menidurinya.

Kali ini dia tidak meneriakkan nama Kazuya. Dia hanya menangis. Aku tak mengerti bagaimana dia bisa menangis sedih sembari mencapai orgasme. Namun sayup-sayup aku mendengarnya terus mengucapkan satu kalimat dengan suara lirih… ‘Hisashi… maafkan aku…’ Dia mengulanginya berkali-kali.

Setelah bercinta, kami terdiam cukup lama tanpa mengucapkan apa pun. Aku mengisap beberapa batang rokok, sementara dia terus menangis dalam diam. Aku tak mampu berbuat apa-apa untuk menenangkannya, jadi kupilih untuk tidak mengatakan sepatah kata pun.

Sore harinya kami keluar dari hotel dan makan malam bersama. Aku bertanya makanan apa yang dia inginkan, dan dia menjawab apa saja karena lapar. Percakapan kami hanya sebatas itu. Aku masuk ke sebuah toko sushi dan dia mengikutiku. Kami makan dalam diam. Tak ada yang bisa dibicarakan dengannya.

Di sanalah puncak kegelisahanku. Aku akhirnya mengatakan hal paling buruk yang pernah keluar dari mulutku: aku memohon padanya untuk tidak menghubungiku lagi. Aku juga berjanji tak akan menemuinya lagi, apa pun yang terjadi. Aku sudah memiliki kekasih dan akan menikah, kataku saat itu.

Dia hanya menjawab dengan satu kata, ‘Maaf,’ yang bodohnya kutanggapi dengan dingin. Aku menegaskan bahwa aku tak akan melakukan ini lagi, tidak akan bercinta dengannya lagi, apa pun alasannya. Jika dia berpikir aku tak akan sakit hati, dia salah. Bukan sakit hati yang kurasakan, melainkan rasa jijik dan muak.

Aku kembali mengingatkannya pada kejadian malam itu. Kazuya meninggal karena berkendara terburu-buru saat hendak menemuinya. Hatinya sangat kalut. Sawada memutuskannya sehari sebelumnya. Wanita itu mengatakan bahwa sebenarnya dia mencintai pria lain. Kazuya tak terima dan ingin mendapatkan penjelasan langsung. Namun takdir berkata lain. Kazuya tak pernah mendengar jawaban darinya.

Setelah mengonfrontasinya seperti itu, dia pun menghilang dari kehidupanku, meninggalkan payung hitam ini.”

Gotou tertegun cukup lama setelah menjelaskan panjang lebar tentang hubungannya dengan wanita bernama Sawada Misa. Kurasa ia menyimpan perasaan bersalah karena telah mengusir wanita itu. Namun, mungkin juga ia membencinya karena menjadi penyebab kematian sahabatnya. Aku pernah membaca tentang kondisi disleksia akut yang mungkin dialami seseorang. Memprihatinkan memang, tetapi terasa aneh jika sampai tak dapat disembuhkan. Setelah kupikir-pikir, apa yang dialami Sawada justru lebih menyerupai kutukan, bukan? Sungguh disayangkan, gadis yang begitu cemerlang saat SMU itu kini berakhir sebagai hostess yang tak laku di sebuah bar kecil di Ginza.

“Kurasa itu yang terbaik. Dia harus mendapatkan kembali kehidupannya. Kehidupan yang sebelumnya berjalan tanpamu.”

“Ya, benar. Aku berharap dia bisa kembali ke kehidupannya sebelum bertemu denganku. Rasanya aku memang tak sanggup menerima beban moral yang akan dia limpahkan. Aku bahkan belum bisa berdamai dengan perasaanku sendiri hingga saat ini. Karena itu aku terus berlari dari kenyataan. Namun jauh di dalam lubuk hatiku, aku sungguh ingin dia bahagia. Aku sangat ingin menolongnya. Aku ingin menyentuhnya, bercinta dengannya. Aku ingin bersamanya. Namun aku takut. Aku takut dia merasakan hal yang sama.”

Mataku terbelalak lebar, tak percaya pada kata-kata Gotou. Lalu terlintas dalam benakku bahwa pria lain yang dimaksud Sawada mungkin saja adalah Gotou sendiri. Itu hanya dugaanku. Aku tak sanggup menanyakannya langsung kepadanya.

Saat itu Gotou memutuskan pulang lebih dahulu karena ada urusan mendadak. Langit masih menurunkan rintik hujan. Namun Gotou tetap kukuh menyeret kakinya yang pincang ke jalanan yang lengang. Tentu saja aku khawatir, tetapi ia berkata akan baik-baik saja karena dia selalu membawa payung hitam itu. Gotou tersenyum getir lalu beranjak pergi dengan tergesa. Senyum itu bukanlah senyum kebahagiaan.

Kurasa ada baiknya sesekali ia melampiaskan saja kesedihannya itu. Bukan kepadaku, melainkan kepada dunia ini.

After Dark


Seorang pria berdiri di pinggir jalan desa. Ia menghela napas panjang sambil menatap tebing tinggi yang menjulang jauh di hadapannya. Baru pukul lima sore, tetapi jalan raya, satu-satunya akses menuju desa, sudah tampak lengang. Tak ada orang maupun kendaraan yang melintas. Di persawahan, para petani telah lama pulang. Udara semakin dingin, menyusup hingga ke tulang.

Tatapannya tetap kosong ke kejauhan.

Proyeknya di desa ini gagal. Sistem pertanian yang ia kembangkan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Semuanya kandas di bulan September, bulan yang seharusnya menjadi musim panen, tetapi justru berubah menjadi malapetaka baginya dan para petani yang telah mempercayakan tanah mereka. Batinnya mengerang. Terlintas keinginan untuk berjalan ke tebing itu dan menghempaskan tubuhnya ke bawah, mengakhiri sesak yang menyesakkan dadanya.

Ia menarik rambutnya ke belakang, mencoba meredakan pusing yang berdenyut di kepala. Para petani sebenarnya telah memahami bahwa sistem yang ia perkenalkan bukan hal biasa dan penuh risiko. Namun mereka tetap percaya kepadanya. Kepercayaan itulah yang kini terasa paling menyakitkan.

Matanya mulai berkaca-kaca. Terlalu banyak kesalahan. Seharusnya ia menguji sistem itu lebih dulu di lahan dan fasilitas milik universitas tempatnya bekerja. Kini ia menyesal karena terlalu percaya diri pada gelar insinyur dan doktor yang disandangnya, serta pengalaman sepuluh tahun yang ia anggap cukup. Padahal para petani itu telah hidup dan bertahan di tanah ini selama beberapa generasi.

Kesadarannya beralih pada rasa rindu akan rumah. Ia ingin bersandar, menumpahkan isi hati pada seseorang yang selama ini membuatnya mampu bertahan. Namun langit tak bersahabat. Rintik hujan mulai turun, membasahi tubuhnya.

Ia berlari menuju halte kecil - satu-satunya tempat bus berhenti. Bus ke desa ini hanya datang 4 kali sehari: pukul 07.00, 12.00, 15.00, dan 18.00. Seharusnya ia belum terlambat untuk bus terakhir. Biasanya, jika tertinggal, ia bisa menginap di rumah salah satu warga. Tetapi kini, rasanya hal itu hampir mustahil.

Di halte itu, seorang wanita telah lebih dulu duduk. Rambut sepundaknya sedikit basah, tangannya memeluk ransel erat karena dingin. Pria itu tertegun.

Wanita itu belum menyadari kehadirannya. Ia menaruh tas di samping, menggulung ujung celana jeansnya agar tak terkena cipratan air. Lampu kecil di halte menyala, memperjelas wajah mereka satu sama lain.

Pria itu menatap kaku, lalu segera memalingkan wajah.

Dari seluruh orang yang paling tak ingin ia temui di muka bumi ini, wanita inilah yang berada di urutan pertama. Ia berusaha menjaga harga diri, menahan kepanikan agar tak tampak di wajahnya. Jantungnya berdetak keras. Sempat terlintas untuk berjalan pergi menembus hujan, tetapi laporan para mahasiswanya ada di dalam tas bisa basah. Ia pun tak punya tempat singgah.

Akhirnya, ia duduk di samping wanita itu, menatap hujan yang semakin deras.

Setengah jam berlalu tanpa sepatah kata pun. Ia berkali-kali memeriksa ponsel, tetapi tak ada sinyal. Ia menggeser galeri foto, lalu mencoba membaca majalah pertanian yang dibawanya dari kampus. Wanita di sampingnya menatap lurus ke depan, resah menunggu bus yang tak kunjung datang. Petir menyambar, jalanan semakin gelap. Keringat dingin mengalir di punggungnya.

Ia memberanikan diri.

“Sedang apa… di desa ini?” tanyanya kaku - kalimat yang terasa jauh dari pembuka yang telah ia susun selama setengah jam.

“Mengunjungi teman yang baru melahirkan,” jawab wanita itu ringan tanpa menoleh.

Ia tak menyangka akan bertemu pria itu lagi, setelah bertahun-tahun memendam sakit hati. Anehnya, pertemuan di tempat asing ini tidak semenyakitkan yang ia bayangkan. Ada rindu samar saat mendengar suaranya. Ada sedih yang masih tersisa.

“Siapa?” tanya pria itu, sekadar mencari bahan obrolan.

“Matsuzono-san. Keluarga kepala desa. Dia teman kerjaku.”

Wanita itu kini menatapnya. Wajahnya tampak lebih pucat dan kusam dibanding dulu.

“Proyek Kagami-san di sini sekarang?” tanyanya pelan. Ia tak lagi memanggilnya Hideki, Hide, Hii-kun, atau Hi-chan. Sapaan formal itu terasa asing, tetapi memang begitulah seharusnya kini.

“Iya,” jawabnya datar, menyembunyikan keinginan untuk mengakui kegagalannya.

“Sudah lama?”

“Sekitar satu tahun dua bulan.”

Wanita itu tersenyum kecil. Sudah tiga tahun berlalu sejak Hideki terakhir melihat Takahashi Chizuna -mantan tunangannya sekaligus sahabatnya sejak sekolah dasar. Tidak, kini semua itu tak lagi berlaku. Chizuna hanyalah seseorang yang pernah ia sakiti sedalam-dalamnya. Dan mungkin tak akan pernah memaafkannya.

“Ngomong-ngomong… apa ada masalah dengan bus terakhirnya?” tanya Chizuna, nada suaranya mulai panik. Jam menunjukkan pukul 19.55.

“Tidak tahu. Jarang sekali bus terlambat sampai selarut ini.”

“Ada kemungkinan tidak datang?”

“Mungkin. Sudah lewat dua jam dari jadwal.”

Chizuna tertawa kecil. “Kalau kita sampai terjebak di sini… mengerikan juga ya. Seperti menghadapi takdir yang tak bisa dielakkan.”

Kalimat terakhirnya membuat Hideki tersentak.

“Aku… tinggal di panti rehabilitasi selama dua tahun,” ujar Chizuna tiba-tiba, memandang ke kegelapan.

Hideki terdiam.

“Setelah kejadian itu, mereka mendiagnosisku memiliki gangguan mental.” Ia memeluk ranselnya lebih erat. “Jujur, aku juga bingung kenapa aku masih hidup sampai sekarang.”

Hideki menunduk dalam. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh.

“Maafkan aku…” suaranya patah.

“Di hari itu, aku sudah kehilangan semuanya,” ujar Chizuna lembut. Ia membuka ransel dan mengeluarkan sapu tangan, menyodorkannya. “Bukan salah Kagami-san juga kalau tidak mempercayaiku. Kondisinya memang kacau, kan? Aku mengerti.”

Tangan mereka bersentuhan sesaat. Sekelebat memori pahit kembali.

Tiga tahun lalu, di musim gugur, Hideki pulang dari dinas luar kota dan menemukan Chizuna tergeletak tanpa busana di ruang tamu. Seorang pria yang merupakan tetangga mereka - berada di dapur, mengenakan pakaiannya dan meminum birnya. Tanpa berpikir panjang, Hideki menghajar pria itu, mengusirnya keluar. Dalam amarah yang membuncah, ia membangunkan Chizuna dan memukulinya, menghujaninya dengan kata-kata hinaan. Ia tak tahu bahwa kekasihnya baru saja disekap dan diperkosa selama tiga hari di bawah pengaruh obat-obatan.

Chizuna melapor ke polisi, tetapi kasus itu tak berlanjut karena kurang bukti. Ironisnya, kandungan obat dalam darahnya justru menjadi bumerang. Ia dimasukkan ke panti rehabilitasi pengguna narkoba. Hideki, yang menolak mempercayainya, mengusir semua barangnya dan pindah ke Kyoto tiga minggu kemudian. Enam bulan lalu, ibu Chizuna datang meminta bantuannya bersaksi di persidangan. Saat itulah ia mengetahui kebenarannya... namun semua telah terlambat.

“Oh ya, selamat atas pernikahannya,” ucap Chizuna pelan. “Kemarin aku lihat di Instagram. Indah sekali.”

Hideki tersentak dari lamunannya. “Oh itu… sudah tiga bulan lalu.”

Chizuna tersenyum. Dari kejauhan, cahaya lampu bus terlihat.

“Ternyata busnya datang juga.”

Bus berhenti. Hideki berdiri, memasukkan majalah ke tas. Tanpa sadar, ia menyimpan sapu tangan Chizuna ke saku jaketnya. Ia naik ke dalam bus, lalu menoleh. Chizuna masih duduk di halte.

“Kagami-san, terima kasih…” ucapnya lirih, air mata mengalir di pipi.

Hideki mematung. Ia ingin memeluk dan melindungi wanita itu dengan segenap jiwa. Tetapi ia tahu, itu tak mungkin lagi.

“Nona tidak ikut?” tanya sopir.

“Tidak, Pak. Saya masih ada urusan disini.” jawab Chizuna.

Pintu tertutup. Bus melaju, membawa Hideki menjauh. Halte itu menghilang dari pandangan, tetapi air matanya belum berhenti.

Ia mengeluarkan sapu tangan itu. Di ujungnya ada sulaman kecil - inisial nama mereka berdua. Hadiah dari Chizuna saat mereka masuk SMA.

Penyesalan itu akan ia bawa seumur hidup.

Andai saja dulu ia mempercayainya.

Mungkin hari ini, ia masih bisa menyelamatkan Chizuna.

Saturday, November 14, 2020

Firefly (Kunang-kunang) part 2


Orang tua Shin yang sangat ingin memiliki anak perempuan menerima Sayo dengan tangan terbuka. Setelah kedatangan Sayo, Nyonya Kaga segera menghubungi ibu Sayo yang berada di Kyoto dan menjelaskan panjang lebar mengenai keberadaan anaknya. Toma-san sangat lega mengetahui ada yang akan membantu mengurus anaknya ketika dia bekerja di Kyoto. Dia berinisiatif untuk memberikan uang bulanan kepada keluarga Kaga yang telah membiarkan Sayo menumpang tinggal.

Nyonya Kaga awalnya menolak karena dia ikhlas untuk mengurus Sayo seperti anaknya sendiri. Namun Toma-san bersikeras memberikan uang bulanan tersebut sebagai tanda terima kasih. Jadilah mau tidak mau Nyonya Kaga menerima uang itu dan diam2 dia selalu membelanjakan uang tersebut untuk kepentingan Sayo. Membelikannya baju yang bagus, buku, dll. Shin menganggap ini hal yang natural jika ibunya jadi sangat menyukai Sayo dan menginginkannya menikahi Sayo suatu saat nanti. Tapi sayangnya Shin tidak memiliki perasaan seperti itu pada Sayo. Sayo pun sama. Dia hanya melihat Shin seperti seorang saudara yang membantu menerangi jalannya.

Friday, April 3, 2020

Firefly (Kunang-kunang) part 1


Malam semakin larut. Cahaya kunang-kunang menerangi hamparan ladang rumput ini. Seorang wanita tampak merebahkan diri dengan tenang di diatasnya.  Tubuhnya dingin. Matanya menatap kosong ke kejauhan. Rambut panjangnya tergerai di atas tanah, membentuk pola tidak beraturan yang indah. Lagu "I will" milik The Beatles terdengar mengalun berulang kali dari ponsel yang terletak di sampingnya.

Sundress kuning yang dikenakannya dipenuhi percikan darah. Tubuh ramping itu tidak bergerak sama sekali. Pergelangan tangan kirinya masih mengeluarkan darah segar, sedangkan tangan kanannya menggenggam sebuah pisau cutter yang berlumuran darah. Kehangatan yang dimiliki tubuh itu telah menghilang perlahan bersamaan dengan matahari yang terbenam. Saat malam tiba, yang tersisa hanyalah seonggok tubuh tak bernyawa. Meninggalkan banyak kenangan dan perpisahan.
"And when at last i found you,
your song will fill the air..."
suara riang Paul McCartney terhenti, ponsel itupun akhirnya mati karena kehabisan baterai.
Waktu seakan kembali ke 15 tahun lalu.

Ocean Whisper (Samudera Berbisik)


Sesungguhnya sulit mendefinisikan arti dari pernikahan ideal yang sebenarnya. Membayangkannya mungkin tidak sesulit itu, menikah, tinggal serumah bersama orang yang dicintai, memiliki anak dan menua bersama. Lalu melihat generasi selanjutnya lahir dan tumbuh. Meneruskan silsilah keluarga. Melanjutkan nama yang telah diwarisi turun temurun. Watanabe Satoru sendiri sudah membayangkan hal tersebut jauh sebelum menikahi sang istri. Dia ingin hidup lurus, menjalani pernikahan yang ideal, mencintai 1 wanita saja, memiliki anak darinya, dan melihat anak-anaknya tumbuh dewasa.

Tak masalah jika karirnya mentok seperti ini. Dia sudah cukup puas dengan menjadi kepala cabang di sebuah perusahaan mobil lokal. Target cabangnya tidak begitu besar dan dia bersyukur karena bisa memenuhinya setiap bulan. Setidaknya berkat posisi itu dia tidak khawatir akan masalah ekonomi. Istrinya juga tak harus kembali bekerja setelah menikah. Satoru membebaskan Emi untuk melakukan apapun. Dia membiarkan istrinya melakukan berbagai kegiatan sosial, mengajarkan bahasa isyarat di balai kota dan sekolah luar biasa. Dia tak ingin istrinya bosan, tapi dia juga ingin membuktikan bahwa dia mampu bertanggung jawab akan dirinya.

Umbrella

Sebagai pria yang telah menginjak usia pertengahan empat puluh, hidupku terasa sangat monoton. Hari-hariku diisi dengan menulis - karena mem...